Minggu, 12 Januari 2014

Cerita Bersambung : Lebih Indah dari Mimpi Lucid Bagian 1


 


Aku dapat merasakan lembut kain yang menyelimuti tubuhku malam ini. Selimut tebal berwarna biru langit yang hangat. Selimut yang mampu membuat dingin malam menjauhi tubuhku.

Aku tidak suka dingin.

Tapi aku mudah sekali merasa kedinginan. Kata mama, aku sering kedinginan karena tubuhku kurus. Tidak ada cukup lemak dalam tubuhku yang mampu membuat badanku merasa hangat. Jadi hawa dingin akan dengan cepat merasuk tulangku.

Apakah itu masuk akal? Gak tau juga sih. Tapi semua yang diucapkan mama selalu benar kan?
Aku menyukai kehangatan yang diberikan selimutku. Sama sukanya dengan bantal yang aku peluk dan guling yang aku letakan di kepala. Kakakku selalu menganggap aneh dengan kebiasaanku menggunakan perlengkapan tidur itu. Lebih aneh lagi begitu tau aku selalu memasukan kakiku ke sarung yang dikenakan oleh bantalku.

Tapi itulah caraku tidur setiap malam. Dan inilah, satu lagi yang mungkin lebih aku cintai dari selimut, bantal, dan gulingku. Ya, tentu saja tidur itu sendiri. Aku bahkan bisa tidur dimana saja dan kapan saja. Mamaku dulu sekali pernah mengatakan kalau semasa hidup, kita ga boleh banyak tidur. Ada banyak waktu untuk tidur kelak. Ketika kita mati. Semasa hidup, kita harus perbanyak beramal dan menjalankan tugas kita sebagai seorang hamba.


“I know, mom. Hanya saja, aku kan ga kebanyakan tidur juga. At least waktu tidurku dengan waktuku terjaga masih dalam hitungan seimbang kok”


Itulah yang selalu aku jaga dalam pikiranku. Faktanya walau aku begitu suka tidur, aku juga gak kebanyakan tidur.

Tapi, ada orang sok tahu yang pernah komentar tentang kesukaanku ini.


“Tidur untuk kamu jadi semacam pelarian ya, Jes? Tempat dan waktu kamu meletakan sejenak semua masalah yang ada di bahu itu. Dalam tidurmu, ada dimensi ruang dan waktu yang begitu kamu puja. Sehingga kamu merasa ingin tinggal disana. Jauh, jauh dari dunia nyata. Dunia nyata yang kamu pikir paling jahat sama kamu doang. Padahal engga.”


Well, walau dia emang sok tahu setidaknya dia benar akan satu hal dan tentu salah akan satu hal pula. Pertama, dia salah dengan mengatakan tidurku adalah pelarian dari seluruh masalahku di kehidupan nyata. Hidupku bahagia kok. Aku juga gak bisa bilang sih kalau hidupku mulus tanpa masalah. Hidupku kadang bergejolak tapi juga kadang dipenuhi bunga-bunga. Ada yang bilang, hidup itu seperti kita menaiki roller coster. Kadang kita naik merangkak perlahan, kemudian kita sampai ke puncak, lalu tiba-tiba menukik tajam ke bawah. Kita tidak pernah tau kelokan macam apa yang terjadi di depan kita. Semua terjadi secara sekelebat. Jantung kita berpacu melewati itu semua. Ada perasaan takut. Tapi walau begitu, kita semua menikmatinya bukan?

Kita semua menikmatinya. Seperti aku yang juga menikmati hidupku disaat terjaga. Menikmati hidup dengan segala kelokannya. Tapi aku juga suka tidur. Temanku itu, benar akan satu hal. Aku memang punya dimensi ruang dan waktu yang begitu aku puja dalam tidurku. Aku menikmati waktu-waktuku ketika berada di dimensi itu. Dimensi yang aku masuki hanya apabila aku tidur. Dimensi itu adalah mimpi. Pada akhirnya, alasan aku begitu suka tidur adalah karena aku suka bermimpi. Aku menyukai hampir semua mimpiku. Mimpiku selalu indah. Tentu saja, karena aku yang mengatur mimpiku sendiri.

***

#SPOILER BAGIAN KEDUA#
Pernahkah kamu mendengar ada seseorang yang bisa mengatur mimpi? Percaya atau tidak, aku adalah salah satu yang bisa. Terdengar mustahil tapi sebenarnya itu nyata dan mungkin. Mengatur mimpi. Fenomena itu lebih dikenal dengan istilah “Lucid Dream” dan aku adalah Lucid Dreamer. And It’s not magic. It makes sense.

Lucid dream adalah keadaan dimana kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Saat kita sedang bermimpi, kita sadar bahwa itu adalah alam mimpi dan kita dapat mengatur alur mimpi kita. Kelima indra kita ketika di alam mimpi, berfungsi sama baik seperti kita berada di dunia nyata. Ya, kita dapat merasakan sentuhan, merasakan sakit, merasakan manisnya coklat, mencium wangi bunga, dan tentu saja, merasakan cinta.

Seperti malam itu, aku sudah siap dengan perlengkapan tidurku. Dengan selimut biru langitku beserta bantal dan guling yang sudah terletak sesuai tempat aku menginginkannya. Aku siap untuk memasuki alam lucid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar