Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

Benarkah Rezim Soeharto Lebih Enak?

Spanduk yang menampilkan foto Soeharto

INDONESIA dalam rezim Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah rezim korup. Era reformasi Indonesia terjadi karena tekanan dari pemerintahan yang otoriter dan kondisi ekonomi yang krisis.

Apabila kita melakukan kilas balik, era reformasi diawali oleh Habibie yang menggantikan Soeharto sebagai presiden. Pada masanya yang merupakan era transisi, Habibie melakukan perbaikan-perbaikan dalam ekonomi makro dan hukum. Habibie mampu menekan inflasi dan kurs valuta juga mendesak untuk mengeluarkan Undang-Undang untuk mengisi kekosongan hukum. Namun masa kepemimpinannya hanya berumur 1 tahun 9 bulan. Setelah itu kursi presiden beralih kepada Gusdur.

Selasa, 11 Desember 2012

Panwaslu Himbau Masyarakat Laporkan Bila Ada Pelanggaran PILKADA

Yayah Nahdiah Ketua Panwaslu Kota Bekasi

BEKASI – Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU) Kota Bekasi mengajak masyarakat ikut aktif mengawasi proses PILKADA.  Himbauan ini dilontarkan oleh Yayah Nahdiah , Ketua Panwaslu Kota Bekasi pada Senin (10/12) di kantor Panwaslu, area Pasar Segar, Bekasi. Yayah menjelaskan ada dua jenis pengawasan yang dilakukan Panwaslu. Pertama, pengawasan aktif yakni pengawasan yang dilakukan langsung oleh petugas Panwaslu. Kedua, pengawasan pasif yakni pengawasan dari masyarakat yang melapor pelanggaran proses PILKADA kepada Panwaslu.

HMI MPO Mengkritik Hak Pemilih yang Tidak Merata



BEKASI - Proses Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) yang berlangsung pada 16 Desember 2012 menuai banyak kritik. Salah satunya Ivan Faisal, ketua Himpunan Mahasiswa Islam, Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Bekasi. Ditemui di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bekasi pada Jumat (7/12), Ivan menyatakan ketidakpuasannya terhadap kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Pria kelahiran 5 April ini memaparkan bahwa kinerja KPU kurang bagus. Salah satunya dia mengkritik perihal pembagian undangan pemilih oleh KPU. Pembagian undangan yang sampai kepada masyarakat pada H-3 PILKADA ini dirasa terlalu lambat. Karena bila nanti ada warga yang tidak mendapatkan undangan akan sangat terbatas waktu untuk mengurusnya.

HMI DIPO Dampingi Kinerja KPU


Ketua HMI DIPO Mardani Ahmad
BEKASI – Himpunan Mahasiswa Islam Bekasi atau yang sering disebut HMI DIPO turut bicara mengenai proses Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). Salah satu organisasi kepemudaan ini menghimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam proses PILKADA. Masyarakat harus memiliki kesadaran politik untuk menyikapi pesta demokrasi yang berlangsung di Bekasi ini.

Hal tersebut dikatakan oleh Mardani Ahmad, Ketua HMI DIPO Bekasi, pada Senin (10/12). Ketika ditemui di Universitas Islam “45” (UNISMA) Bekasi, Mardani berpendapat kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih sesuai dengan aturan yang berlaku. “Kalaupun ada pelanggaran, ada lembaga yang akan memantau hal tersebut yaitu PANWASLU (Panitia Pengawas Pemilu)” ujarnya.

Analisis Artikel Eksplanatif - Dibalik Mundurnya Andi Mallarangeng



Mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng.

Artikel ilmiah merupakan karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam bentuk jurnal ilmiah. Artikel ilmiah ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman tertentu. Salah satu jenis artikel ilmiah adalah artikel eksplanatif. Artikel eksplanatif merupakan artikel yang bertujuan untuk memaparkan kejadian dibalik suatu masalah menurut sudut pandang tertentu. Terutama sudut pandang penulis sehingga pembaca memahami kejadian dibalik sebuah masalah.

Selasa, 09 Oktober 2012

Menentukan Opini dan Fakta dalam Berita

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba memisahkan antara sebuah fakta dan opini dalam berita. Idealnya tidak boleh ada opini dalam sebuah berita. Hanya terdapat fakta dalam berita. Namun wartawan biasa menyelipkan opini melalui pandangan-pandangan narasumber. Terkadang kecendrungan berita juga dapat kita lihat dari opini tersirat dalam berita tersebut.

Berikut ini adalah analisis sederhana mengenai kalimat fakta dan opini dalam berita. Analisis ini hanya berdasarkan berita tanpa memperhatikan aspek kepemilikan media.

---------------------------------------------------------------------

Berita Politik 
Harian Jurnal Nasional, 9 Oktober 2012

Kalimat Fakta

"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara dalam menyikapi perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri)"

Kalimat diatas merupakan lead dari harian Jurnas tanggal 9 Oktober 2012. Kalimat tersebut saya kategorikan sebagai fakta. Karena kalimat tersebut merupakan rangkuman apa yang ditulis di isi berita secara keseluruhan. Faktanya pula, Presiden memang berpidato pada malamnya (8/10) di Istana Negara. Presiden berpidato dalam rangka menyikapi perseteruan yang tengah berlangsung antara KPK dan Polri.

Kalimat Opini

"Sikap Presiden Jelas dan Tegas"

Kalimat diatas merupakan headline berita hari itu. Menurut saya dari judulnya saja sudah tersirat sebuah bentuk opini dari wartawan. Pasalnya jelas dan tegas ini merupakan hasil kesimpulan si wartawan setelah mendengarkan pidato Presiden. Hal ini didukung pula oleh berita didalamnya. Wartawan mengutip pernyataan dari Irman Putrasiddin selaku Pengamat Hukum Tata negara. Dalam berita tersebut Irman mengungkapkan rasa setujunya terhadap perkataan Presiden. Irman mengatakan langkah Presiden untuk tidak mengintervensi dua institusi tersebut sudah tepat. Hal tersebut kendati dikemas dalam kutipan fakta namun terkandung opini didalamnya.

Berita Ekonomi
Harian Jurnal Nasional, 9 Oktober 2012


Kalimat Fakta

"BUMN tebu minta impor gula mentah"

Kalimat diatas merupakan judul yang cukup menjelaskan fakta yang tercantum dalam berita. Pada kenyataannya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) meminta agar diberi otoritas untuk mengimpor gula mentah secara berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan pihak RNI di sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) PTPN, RNI, dan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin (8/10). Oleh karena itu jelaslah kalimat tersebut termasuk dalam kalimat fakta.

Kalimat Opini

"Kendati demikian, keterbatasan lahan serta beberapa faktor lainnya, menjadikan banyak pihak pesimistis untuk mencapai target swasembada tersebut."

Sangatlah jelas kalimat tersebut merupakan kalimat opini. Sebelum kalimat tersebut, wartawan memberikan fakta bahwa Indonesia memiliki target swasembada gula sebanyak 5,7 ton. Namun untuk memenuhi target tersebut diperlukan alokasi lahan tambahan sebanyak 350 hektar. Kalimat opini yang saya tulis diatas merupakan opini wartawan yang merasa pesimis akan target swasembada gula. Hal ini disebabkan karena pemerintah sendiri tidak memperhatikan ketersediaan lahan di lapangan.

Berita Pendidikan
Harian Jurnal Nasional, 9 Oktober 2012

Kalimat Fakta
"Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional ini diikuti oleh sebanyak 2131 peserta seleksi tingkat provinsi yang dilaksanakan olek Dirjen Pendidikan Dasar, Kemendikbud. Peserta terdiri dari 99 siswa sekolah dasar dan 132 siswa SMP dan 33 provinsi."

Kalimat diatas merupakan kalimat fakta. Karena didalamnya terkandung beberapa aspek 5W+1H diantaranya pertanyaan seperti Apa dan Siapa.

Kalimat Opini
"Menurut dia, anak-anak masa kini tidak lagi mengenal lagu anak-anak. Malah, anak-anak justru lebih fasih menyanyikan lagu orang dewasa."

Kalimat tersebut merupakan kalimat opini yang menyatakan keprihatinan wartawan akan lagu anak-anak yang tersedia saat ini. Walaupun ditulis sebagai opini dari Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Mari Elka Pangestu.

Berita Kesehatan
Harian Jurnal Nasional Online, 28 September 2012


Kalimat Fakta
"Berdasarkan laporan WHO tahun 2010, terdapat 17 jenis NTD yang menyebabkan penderitaan dan kecacatan pada masyarakat miskin, diantaranya Limfatik Filariasis, Kusta, Yaws, Demam Berdarah Dengue (DBD), Rabies, Leptospirosis, Chikungunya, Japanese Encephalitis, Schistosomiasis, Soil Transmitted Helminthiasi, Malaria dan lainnya."

 Kalimat diatas berisikan data-data dari instansi kesehatan sebesar WHO. Oleh karena itu sudah pasti kalimat ini adalah kalimat fakta.


Kalimat Opini
"Bahkan, menurut Nafsiah, NTD dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kerugian ekonomi dan menimbulkan dampak negatif terhadap pengembangan SDM kesehatan"

Pada kalimat telah jelas disebutkan menurut Nafisah. Adanya kata "menurut" menandakan bahwa kalimat diatas merupakan kalimat opini. Walaupun bukan kalimat opini dari wartawan langsung .

-------------------------------------------

Itulah analisis singkat dalam menentukan opini dan fakta yang terkandung dalam berita. Oleh karena itu kita sebagai pembaca harus jeli untuk membedakan sebuah fakta dalam berita ataupun opini yang diselipkan pembaca.

Sabtu, 29 September 2012

Rabu 9 SKS

Menurut beberapa orang, hari dimulai sejak saat kita membuka mata pagi ini. Begitu pula menurut saya. Seperti hari Rabu 26 September 2012 pukul 05.00. Saya bangun dengan perasaan agak malas. Ya, sebenarnya kalau boleh memilih saya ingin skip saja hari itu. Bagaimana tidak? Hari itu saya akan kuliah 9 sks dari pukul 07.30 sampai 15.30 tanpa jeda. Membayangkannya saja sudah melelahkan bukan?

Namun saya harus segera beranjak dari tempat tidur. Adzan sudah berkumandang sekitar setengah jam yang lalu. Saya harus segera sholat subuh. Pondok Ungu Permai beratapkan langit biru yang sangat jernih. Walaupun tak akan bisa sejernih doaku di pagi itu.

Setelah itu saya langsung membantu menyiapkan ketiga keponakan saya pergi ke sekolah. Kemudian menyiapkan diri saya sendiri untuk berangkat ke kampus. Sekitar pukul 06.15, saya pun siap untuk berangkat ke kampus UNISMA.

Ada tiga mata kuliah yang harus saya ikuti pagi itu. Ketiganya adalah mata kuliah jurnalistik yang saya ambil dengan kelima teman saya. Ya, kami memang hanya berlima dari angkatan 2010 yang mengambil konsentrasi jurnalistik. Lainnya? Sebanyak delapan orang teman seangkatanku lebih memilih konsentrasi humas.

Mata kuliah pertama adalah Penulisan Berita dan Opini pukul 07.30. Selain kelima temanku ada dua seniorku yang juga mengikuti kuliah ini. Dosen untuk mata kuliah ini adalah Bapak Iwan Samariansyah. Salah satu dosen favoritku dikampus. Pada pertemuan pertama kami di semester itu, beliau menanyakan alasan kami memilih jurnalistik. Jika ditanyakan alasan, sebenarnya alasanku simpel. Aku lebih suka menulis ketimbang berbicara seperti anak humas. Bagiku menulis adalah menjawab kegelisahan, sebelum baik untuk orang lain dia harus baik untuk diri sendiri dulu. Menjawab kegelisahan yang aku maksud tidak harus selalu curhat. Terkadang juga menuangkan ide sebelum keburu lupa didalam kepala. Ada banyak cara mengabadikan peristiwa. Aku suka mengabadikannya lewat foto dan menulis. Tapi kalau ditanya tentang cita-cita ku kelak. Sejujurnya aku ingin jadi pengusaha. Hihi..

Kembali ke mata kuliah Pak Iwan. Pagi hari itu beliau memotivasi kami tentang manfaat menulis. Sambil menjelaskan slide-nya, beliau juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang beliau miliki. Ini adalah salah satu alasan saya selalu suka mata kuliah beliau. Rasanya selalu menyenangkan mendengar cerita beliau. Pengalamannya menjadi wartawan membuat saya sejujurnya kagum dengan profesi itu. Akhirnya tanpa terasa 3 sks telah selesai saya lalui. Ya, pelajaran yang cukup menyenangkan untuk mengawali hari itu saya pikir.

Kemudian tanpa harus berpindah ruangan mata kuliah selanjutnya pun dimulai. Pada pukul 10.00 dimulailah kuliah Bahasa Jurnalistik. Kali ini oleh Bapak Zulkarnaen atau yang akrab disapa Pak Zul. Ini adalah pertemuan kedua saya dengan mata kuliah Pak Zul. Setelah pada hari sebelumnya saya juga mengikuti kuliah beliau di mata kuliah Jurnalisme Online.

Pak Zul ini orangnya tidak jauh berbeda dengan Pak Iwan. Ya, sama-sama memiliki background sebagai wartawan. Ah, saya memang lebih suka diajar oleh dosen praktisi. Mereka seakan lebih tahu 'medan perang'. Selama perkuliahan Pak Zul sering kali bercerita mengenai pengalamannya. Salah satu ceritanya yang berkesan untuk saya adalah saat ia diberitakan oleh harian Radar Bekasi. Pak Zul pernah diberitakan hal buruk oleh harian tersebut terkait posisinya di pemerintahan Bekasi. Lucunya beliau dulu adalah orang yang sering membuka aib orang lain di media massa. Ya, tentu karena profesinya adalah wartawan. Sekarang dia baru tahu kalau ditulis yang buruk di koran itu sakit juga. Salah satu ucapan beliau yang saya ingat adalah ''Kalo ngekritik itu ga perlu teriak-teriak, ga perlu demo, pake tulisan itu lebih sakit''. Ya, rasanya pena wartawan itu lebih tajam. Kuliah Pak Zul pun berakhir pukul 12.30. Masih ada waktu setengah jam sebelum kami lanjut ke perkuliahan terakhir yaitu Foto Jurnalistik.

Setelah makan siang dan sholat dzuhur saya pun siap untuk kuliah selanjutnya. Dosen untuk mata kuliah Foto Jurnalistik ini adalah Pak Hamludin. Beliau juga merupakan dosen praktisi yang saat ini berprofesi sebagai wartawan Tempo. Dalam mata kuliah ini kami belajar kamera. Tentang apa itu shooter, mengatur diafragma, menentukan fokus, dll. Saya suka belajar foto walaupun belum mahir didalamnya. Melihat sebuah foto bagaikan melihat rangkaian hidup, melihat sejarah, melihat kenangan. Foto dan tulisan adalah bentuk mesin waktu yang bisa membawa kita ke masa lalu. Ya, walau hanya dengan mengenangnya saja.

Sama halnya dengan Pak Iwan dan Pak Zul, Pak Ham adalah salah satu dosen praktisi. Beliau juga banyak bercerita seputar pengalamannya. Saya berharap bisa mengambil keahlian Pak Ham dalam melukis cahaya di semester ini. Tanpa terasa 3 sks mata kuliah terakhir pun selesai.

Ah, rasanya melelahkan sekali perkuliahan waktu itu. Namun saya tidak bosan. Ya, dosen-dosen di hari Rabu adalah favorit saya semua. Sehingga walaupun lelah, saya senang.

Sisi positifnya, keseharianku yang sibuk hari itu membuatku tidur nyenyak. Begitulah keseharianku pada Rabu 26 September yang lalu. Walaupun melelahkan tetapi saya siap menghadapi Rabu 9 SKS yang akan datang.