Selasa, 09 Oktober 2012

Menentukan Opini dan Fakta dalam Berita

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba memisahkan antara sebuah fakta dan opini dalam berita. Idealnya tidak boleh ada opini dalam sebuah berita. Hanya terdapat fakta dalam berita. Namun wartawan biasa menyelipkan opini melalui pandangan-pandangan narasumber. Terkadang kecendrungan berita juga dapat kita lihat dari opini tersirat dalam berita tersebut.

Berikut ini adalah analisis sederhana mengenai kalimat fakta dan opini dalam berita. Analisis ini hanya berdasarkan berita tanpa memperhatikan aspek kepemilikan media.

---------------------------------------------------------------------

Berita Politik 
Harian Jurnal Nasional, 9 Oktober 2012

Kalimat Fakta

"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara dalam menyikapi perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri)"

Kalimat diatas merupakan lead dari harian Jurnas tanggal 9 Oktober 2012. Kalimat tersebut saya kategorikan sebagai fakta. Karena kalimat tersebut merupakan rangkuman apa yang ditulis di isi berita secara keseluruhan. Faktanya pula, Presiden memang berpidato pada malamnya (8/10) di Istana Negara. Presiden berpidato dalam rangka menyikapi perseteruan yang tengah berlangsung antara KPK dan Polri.

Kalimat Opini

"Sikap Presiden Jelas dan Tegas"

Kalimat diatas merupakan headline berita hari itu. Menurut saya dari judulnya saja sudah tersirat sebuah bentuk opini dari wartawan. Pasalnya jelas dan tegas ini merupakan hasil kesimpulan si wartawan setelah mendengarkan pidato Presiden. Hal ini didukung pula oleh berita didalamnya. Wartawan mengutip pernyataan dari Irman Putrasiddin selaku Pengamat Hukum Tata negara. Dalam berita tersebut Irman mengungkapkan rasa setujunya terhadap perkataan Presiden. Irman mengatakan langkah Presiden untuk tidak mengintervensi dua institusi tersebut sudah tepat. Hal tersebut kendati dikemas dalam kutipan fakta namun terkandung opini didalamnya.

Berita Ekonomi
Harian Jurnal Nasional, 9 Oktober 2012


Kalimat Fakta

"BUMN tebu minta impor gula mentah"

Kalimat diatas merupakan judul yang cukup menjelaskan fakta yang tercantum dalam berita. Pada kenyataannya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) meminta agar diberi otoritas untuk mengimpor gula mentah secara berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan pihak RNI di sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) PTPN, RNI, dan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin (8/10). Oleh karena itu jelaslah kalimat tersebut termasuk dalam kalimat fakta.

Kalimat Opini

"Kendati demikian, keterbatasan lahan serta beberapa faktor lainnya, menjadikan banyak pihak pesimistis untuk mencapai target swasembada tersebut."

Sangatlah jelas kalimat tersebut merupakan kalimat opini. Sebelum kalimat tersebut, wartawan memberikan fakta bahwa Indonesia memiliki target swasembada gula sebanyak 5,7 ton. Namun untuk memenuhi target tersebut diperlukan alokasi lahan tambahan sebanyak 350 hektar. Kalimat opini yang saya tulis diatas merupakan opini wartawan yang merasa pesimis akan target swasembada gula. Hal ini disebabkan karena pemerintah sendiri tidak memperhatikan ketersediaan lahan di lapangan.

Berita Pendidikan
Harian Jurnal Nasional, 9 Oktober 2012

Kalimat Fakta
"Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional ini diikuti oleh sebanyak 2131 peserta seleksi tingkat provinsi yang dilaksanakan olek Dirjen Pendidikan Dasar, Kemendikbud. Peserta terdiri dari 99 siswa sekolah dasar dan 132 siswa SMP dan 33 provinsi."

Kalimat diatas merupakan kalimat fakta. Karena didalamnya terkandung beberapa aspek 5W+1H diantaranya pertanyaan seperti Apa dan Siapa.

Kalimat Opini
"Menurut dia, anak-anak masa kini tidak lagi mengenal lagu anak-anak. Malah, anak-anak justru lebih fasih menyanyikan lagu orang dewasa."

Kalimat tersebut merupakan kalimat opini yang menyatakan keprihatinan wartawan akan lagu anak-anak yang tersedia saat ini. Walaupun ditulis sebagai opini dari Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Mari Elka Pangestu.

Berita Kesehatan
Harian Jurnal Nasional Online, 28 September 2012


Kalimat Fakta
"Berdasarkan laporan WHO tahun 2010, terdapat 17 jenis NTD yang menyebabkan penderitaan dan kecacatan pada masyarakat miskin, diantaranya Limfatik Filariasis, Kusta, Yaws, Demam Berdarah Dengue (DBD), Rabies, Leptospirosis, Chikungunya, Japanese Encephalitis, Schistosomiasis, Soil Transmitted Helminthiasi, Malaria dan lainnya."

 Kalimat diatas berisikan data-data dari instansi kesehatan sebesar WHO. Oleh karena itu sudah pasti kalimat ini adalah kalimat fakta.


Kalimat Opini
"Bahkan, menurut Nafsiah, NTD dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kerugian ekonomi dan menimbulkan dampak negatif terhadap pengembangan SDM kesehatan"

Pada kalimat telah jelas disebutkan menurut Nafisah. Adanya kata "menurut" menandakan bahwa kalimat diatas merupakan kalimat opini. Walaupun bukan kalimat opini dari wartawan langsung .

-------------------------------------------

Itulah analisis singkat dalam menentukan opini dan fakta yang terkandung dalam berita. Oleh karena itu kita sebagai pembaca harus jeli untuk membedakan sebuah fakta dalam berita ataupun opini yang diselipkan pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar